Due to the COVID-19 outbreak, we are now running our classes online. Contact us to learn more about our home based learning program.

Mendampingi C.J.

Montessori

Namanya C.J, seorang anak laki-laki berusia 3,5 tahun. Perawakannya kurus. Sudah 1 bulan dia bersekolah. Dia tidak banyak bicara, bahkan hampir tidak terdengar suaranya. Dia tidak terlalu suka bermain dengan teman-temannya. Dia akan duduk sedikit jauh dan asyik mengamati apa yang mereka lakukan.

Aku berjumpa C.J dan kedua orang tuanya saat mereka ingin mendaftarkan C.J disini. Sekilas aku tidak melihat masalah yang terlalu berarti, tetapi mamanya nampak sangat khawatir akan sikap C.J yang dianggap terlalu malas dan susah diatur.

Dalam 1 bulan ini aku menjadi mengerti akan kekhawatiran kedua orang tuanya. C.J hampir tidak mau melakukan apapun di dalam kelas, dia hanya asyik melihat teman-temannya bekerja dengan peralatan Montessori yang ada di dalam kelas. Setelah beberapa saat mengamati dia akan menghampiri salah seorang teman dan mulai mengganggunya.

Terkadang C.J mengambil salah satu bagian dari peralatan Montessori yang digunakan oleh temannya tersebut, atau dia akan berkomentar tentang pekerjaan temannya itu yang kemudian memancing pertengkaran diantara mereka.

Kami guru-guru berkewajiban mengajarkan anak-anak untuk saling menghargai, termasuk menghargai privasi masing-masing saat mereka sedang belajar. Sehingga jika seorang anak ingin ikut bergabung dengan temannya yang sedang melakukan suatu kegiatan, mereka harus meminta ijin apakah mereka diperbolehkan ikut nimbrung dalam kegiatan tersebut. Ini termasuk dalam pelajaran "Exercise for Practical Life" sub pelajaran tentang sopan-santun.

Setiap kali kami para guru yang ada di kelas menegur dan mengingatkan C.J mengenai hal itu, dia akan merajuk dan menarik diri kemudian tidak mau lagi melakukan apapun. Badannyapun dengan sengaja dilemaskan, seperti tak bertulang. Dan tidak ada satu katapun dari kami yang akan membuat dia berdiri ataupun duduk dengan tegak.

C.J bisa bertahan dengan kondisi seperti itu sampai kelas usai. Aku tentu saja merasakan kekhawatiran yang sama dengan orang tuanya. Bagaimana jika sepanjang tahun hanya hal semacam ini yang akan dia lakukan setiap hari di sekolah?

Hari itu seperti biasa C.J sedang merajuk, duduk diam, cemberut dan tidak mau melihat kepadaku. Masalah lain yang juga setiap kali kuhadapi adalah dia tidak mau makan jika tidak ada menyuapinya.

Aku duduk disampingnya, tas miliknya ada di atas meja makan. Dia tidak mau mengambil bekalnya dari dalam tas dan juga tidak mengijinkan kami mengambilkannya.

Aku memutuskan untuk tidak memulai "perang" dengan mempermasalahkan soal bekal ataupun tindakannya yang mengganggu seorang temannya tadi.

Sudah beberapa waktu aku mengamati C.J dan mencoba menemukan hal-hal apa yang menarik baginya. Aku melihat bahwa dia sedang mencari perhatian, dan rupanya dia tidak mengetahui bagaimana caranya.

Aku menemukan bahwa C.J ingin didengar, tetapi dia masih belum mempunyai kemampuan menyampaikan apa yang dirasakan ataupun apa yang dipikirkan. Apa lagi bahasa yang kami gunakan di sekolah adalah sepenuh nya bahasa Inggris. Tidak mustahil hal tersebut juga memberi pengaruh kepada sikapnya.

Hal lain yang kuamati adalah masih terlalu banyaknya bantuan yang didapat oleh C.J di rumah, membuat dia tidak memahami arti tanggung jawab.

Wow...anak seusia C.J sudahkah perlu memahami arti tanggung jawab? Tentu saja, tanggung jawab harus diajarkan sedini mungkin sesuai dengan porsinya. Misalnya, jika dia mengambil mainan, maka dia harus mengembalikan pada tempatnya semula. Jika dia menumpahkan air, ajarkan dia untuk mengeringkan tumpahan tersebut.

Anak-anak senang jika kita mengajarkan mereka melakukan hal-hal semacam itu, apalagi jika mereka melihat kita juga melakukannya. Anak-anak adalah seorang peniru ulung. Jadi ajarkan hal-hal yang penting yang kita inginkan untuk mereka lakukan.

Didepan kami duduk Dani, muridku yang lain. Aku berbincang dengan Dani dan berlagak tidak memperhatikan C.J.

Aku melihat kepada tas milik C.J yang bergambar salah satu tokoh film kartun. Kemudian aku bergumam sendiri mengenai tokoh kartun tersebut. Aku bercerita bagaimana lucunya tokoh kartun tersebut dan bagaimana aku sedih ketika melewatkan tayangan filmnya di TV.

Dani menimpali ceritaku sambil tetap asyik mengunyah buah anggur yang dibawanya sebagai bekal. Tak berapa lama C.J pun mulai ikut berkomentar dan tanpa sadar kami sudah asyik berbincang dan tertawa bersama.

Begitulah seterusnya ,setiap kali C.J merajuk aku akan menggunakan cara yang sama, bercerita mengenai apa saja, tanpa menunjukkan bahwa aku sedang ingin berkomunikasi dengan dia. Aku sengaja melakukan hal tersebut karena C.J akan menarik diri jika aku berbicara langsung kepadanya.

Setelah beberapa waktu aku berhasil mendapatkan kepercayaannya. Aku dengan mudah bisa menegur atau memintanya bangun dari posisi lemas lunglai yang biasanya dia tunjukkan setiap kali dia merajuk.

Kedua orang tua C.J juga mengkhawatirkan masalah makan, dia sangat susah makan. Jika tidak disuapi oleh asisten rumah tangganya, maka bisa seharian dia tidak makan, begitu penjelasan mama C.J. Asisten rumah tangganya pun bahkan masih memerlukan waktu lebih dari 1 jam untuk menyuapinya.

Di sekolah, kami mendorong dan mengajarkan anak-anak untuk bisa makan sendiri. Tentunya hal inipun harus dilakukan di rumah demi mempercepat anak-anak untuk mandiri. Kerjasama antara sekolah dan rumah adalah "harga mati" agar anak-anak bisa berkembang dengan maksimal.

Aku sangat bisa mengerti bagaimana kekhawatiran orang tuanya. Dan C.J bukan satu-satunya anak dengan masalah kesulitan makan.

Aku bertekad untuk bisa membantu C.J dalam hal ini. Maka hari itu aku memutuskan untuk mendampingi C.J secara langsung saat dia sedang makan.

Seperti biasa dia tidak mau menyentuh makanannya. Lalu ku putusnya untuk mengajak dia bercerita tentang kelinci peliharaan Angel, putriku.

Sambil asyik berbincang aku mulai menyuapi dia dengan 1 sendok makanannya..setelah dia selesai mengunyah, kemudian aku menaruh makanan di sendok dan meminta C.J untuk mengambil sendok tersebut dan memakan makanannya. "Ms, Corry bantu menyuapi satu sendok dan C.J makan sendiri satu sendok ya", ujarku. Begitu seterusnya, dan tidak sampai 30 menit dia sudah menghabiskan bekalnya.

Bagiku itu adalah pencapaian yang luar biasa, bahkan C.J dapat duduk di kursi makan dengan tenang, sampai dia menyelesaikan makanannya.

Dia sangat suka jika aku mengajaknya bercerita tentang sesuatu hal, topik percakapan kamipun berganti ganti. Dari binatang peliharaan, mainan favorit, teman main di rumah dan lain sebagainya.

Dua minggu kemudian C.J sudah mau makan sendiri, walaupun kadang aku masih harus menyuapinya 1, 2 sendok diawal atau 1, 2 sendok diakhir.

Hari-hari selanjutnya C.J belajar banyak hal, dia menjadi lebih percaya diri dan mulai bisa menentukan apa yang ingin dipelajarinya di dalam kelas. Aku tidak lagi harus banyak bercerita untuk menarik perhatiannya.

Hari itu, 2 tahun setelahnya aku melihat C.J dengan bersemangat membantu seorang temannya mewarnai berbagai macam bendera dari negara-negara di Asia.

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagiku saat itu, selain melihat kegembiraan di wajahnya.

Namun sejauh apa nantinya C.J berkembang akan sangat tergantung kepada konsistensi orang dewasa di sekitarnya, untuk membantu C.J melakukan semua kegiatannya secara mandiri, seperti membawa tasnya sendiri ke sekolah, makan sendiri, memakai sepatu, dan lain sebagainya.

“The child’s conquests of independence are the basic steps in what is called his ‘natural development'.”

- Maria Montessori